Depan
Artikel
Paguyuban
Aktivitas
Pelatihan
Diskusi
Galeri Foto
You Tube

Untitled Document

PILIHAN BARU NATA DE COCO DARI AIR CUCIAN BERAS

Oleh: Bambang Unjianto

NATA merupakan jenis makanan yang dikonsumsi dan digemari masyarakat. Saat ini nata yang paling banyak beredar di pasaran adalah nata yang berbahan baku air kelapa, yang dikenal dengan nata de coco.
Tetapi masyarakat mendapat alternatif baru, yaitu nata yang dibuat dari air cucian beras (leri). Itu hasil penelitian mahasiswa Fakultas MIPA UNY, Rizky Stiyabudi, mahasiswa Jurusan Fisika, Anggiyani Ratnaningtyas, serta mahasiswa Pendidikan Kimia dan Pendidikan Tata Boga Fakultas Teknik UNY, Nuky Hanggara.
Mereka memanfaatkan air cucian beras yang terbuang sia-sia, untuk menjadi bernilai ekonomis dan berpotensi mendatangkan keuntungan.
Menurut Humas FMIPA Deddy Herdito MM, Kamis (2/7), penemuan itu didasari oleh pemikiran bahwa air cucian beras memenuhi syarat untuk pertumbuhan bakteri Acetobacter xylinum, yaitu terdapat kandungan gula dan karbohidrat.
Prinsip utama suatu bahan pangan dapat diolah menjadi nata adalah adanya kandungan karbohidrat yang cukup memadai.
Nata merupakan selulosa yang dibentuk oleh bakteri Acetobacter xylinum.
Serat di dalam nata sangat dibutuhkan dalam proses fisiologi, bahkan dapat membantu penderita diabetes dan memperlancar penyerapan makanan dalam tubuh. Karena itu, produk itu dapat dipakai sebagai sumber makanan berkalori rendah untuk keperluan diet.
Hampir Sama Rasa Dia mengatakan, nata de leri hampir sama bentuk dan rasanya dengan nata de coco yang merupakan hasil pengolahan air kelapa, dan nata de soya hasil pengolahan limbah cair industri tahu. Bentuknya seperti agar-agar, tetapi lebih kenyal dan biasa dipakai sebagai campuran fruit cocktail, ice cream, es teler, dan yogurt.
Sebagai bahan makanan pokok di Indonesia, beras menyumbang sedikitnya 45% protein dalam komposisi gizi masyarakat. Beras memenuhi syarat menjadi makanan pokok, jika dilihat dari zat gizi yang di kandungnya. Karbohidrat adalah komposisi zat gizi yang dominan yang terdapat pada beras dan beberapa makanan pokok lain.
Pada beras pecah kulit, kandungan itu mencapai 76%, sedangkan kandungan proteinnya mencapai 8%. Kebiasaan para ibu rumah tangga mencuci beras dengan tujuan membersihkan beras dari kotoran.
Namun, yang mengejutkan, pencucian tersebut sampai benar-benar bersih. Pencucian itu sampai air cucian beras berwarna putih susu. Itu berarti protein dan vitamin B di dalamnya ikut terkikis.
Dia mengemukakan pula, vitamin B1 atau Thiamin berguna dalam pertumbuhan, juga diperlukan dalam pembakaran karbohidrat untuk mendapat kalori.
Makin banyak kebutuhan kalori, akan makin banyak pula kebutuhan vitamin B1. Vitamin B1 membantu dalam penggunaan zat makanan oleh tubuh dan mengatur pembentukan butir-butir darah.
’’Vitamin B1 juga membantu pencegahan penyakit beri-beri. Thiamin adalah satu vitamin larut air, kehilangan Thiamin selama pengolahan biasanya terjadi pada saat pengolahan beras menjadi nasi,’’ ujarnya.  (66)

 

Back Top

Copyright © 2011 www.natadecocoindonesia.com
Office: Kadirejo 81, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Tlp: (0274) 7187776